Blogger Widgets | WAP'S BLOG

Pages

Jumat, 12 September 2014

WISATA GUNUNG KELUD


Wisata Gunung Kelud Kediri. Catatan perjalananku kali ini berawal dari status salah satu temen fb-ku yang memposting foto Gunung Kelud yang keren. Berangkat dari Surabaya pukul 06.00 WIB. Perkiraanku nyampe di Kediri jam 09.00, jadi gak terlalu siang. Menyusuri kota Surabaya, Mojokerto, Jombang, Pare, dan akhirnya sampai juga di Kecamatan Wates, Kediri.

Dari Kecamatan Wates ini, pengunjung harus melewati jalan yang cukup menanjak dan berliku. Sebelumnya aku berhenti di loket untuk membeli tiket masuk sebesar Rp 23 ribu untuk 2 orang + 1 motor. Disini bus-bus pariwisata yang berukuran besar parkir disini. Penumpang bus akan dioper menggunakan mobil yang berukuran lebih kecil. Karena aku naik motor, langsung saja aku berangkat tanpa menunggu lama. 

wisata gunung kelud kediri


Gunung Kelud
Jalanan menuju kawah Gunung Kelud yang sekarang menjadi Anak Gunung Kelud ini didominasi dengan tanjakan-tanjakan yang cukup terjal. Tak jarang ada rambu peringatan agar menggunakan persneling 1 untuk melewati tanjakan-tanjakan tersebut.


wisata gunung kelud
Jalan Menuju Gunung Kelud
Di tengah perjalanan juga ada yang namanya "Mysterious Road", jalan yang mirip Jabal Magnet di Arab Saudi. Tapi hanya kendaraan roda 4 yang bisa merasakannya. Caranya, mobil dibiarkan dalam kondisi menyala tapi pada posisi persneling netral, mobil akan maju meskipun jalannya menanjak. Setelah melewati jalan misterius tersebut, akupun sampai di area parkir yang sudah ramai dengan sepeda motor maupun mobil. Area parkirnya sangat luas dengan warung-warung makanan di tepinya.

Wisata Gunung Kelud ini memang sangat cocok digunakan sebagai wisata keluarga karena treknya yang santai dan tak sekejam Kawah Ijen. Dari tempat parkir, pengunjung hanya berjalan sekitar 200 meter untuk menuju Anak Gunung Kelud. Disini pengunjung terlebih dahulu melewati sebuah goa peninggalan Jepang sepanjang sekitar 80 meter. Dahulu goa ini dibuat sebagai jalur aliran lava saat gunung meletus.

Sepuluh menit jalan kaki dari tempat parkir, sampailah di Anak Gunung Kelud yang berduet dengan tebing batu tinggi menjulang yang sangat indah. Dahulu Anak Gunung Kelud ini masih berupa kawah dengan air yang berwarna hijau, tapi setelah letusan tahun 2007 lalu, kawah tersebut menjadi Anak Gunung Kelud. 


wisata gunung kelud
Tebing Batu
Sama seperti Kawah Ijen, Gunung Kelud juga ramai dikunjungi oleh turis mancanegara yang menyukai pemandangan alam pegunungan. Anak Gunung Kelud ini berupa gundukan pasir dan batu yang muncul dari bekas kawah tersebut. Terlihat air kawah yang tinggal sedikit disana.


anak gunung kelud
Anak Gunung Kelud
Tak jauh dari Anak Gunung Kelud terdapat gardu pandang, yaitu tempat untuk melihat pemandangan Gunung Kelud dari ketinggian. Untuk menuju gardu pandang, pengunjung harus menaiki tangga beton yang luar biasa tingginya. Mungkin 4 kali lipat lebih tinggi dari tangga Gunung Bromo tingginya.

Butuh 15 menit untuk menaiki tangga super tersebut sampai atas. Jangan sekali-kali menaiki tangga ini kalo belum sarapan, bakalan KO deh. Di puncak gardu pandang terdapat gazebo untuk berteduh dari panasnya matahari dan hujan. Dari gardu pandang ini pengunjung bisa melihat seluruh penjuru Gunung Kelud dan Kabupaten Kediri di bawah sana.

Di gardu pandang ini juga terdapat teropong yang bisa dipakai untuk melihat tempat yang diinginkan. Uniknya pengunjung harus memasukkan koin layaknya mesin game di mall sebelum menggunakan teropong, harga koinnya cuma 1000 rupiah.

Setelah puas menikmati pemandangan Anak Gunung Kelud dan tebing batunya, waktunya untuk turun. ADa pengalaman menarik saat aku turun. Ada seorang pengunjung yang pingsan di tengah perjalanan menuju gardu pandang. Akupun membantu dengan menggendongnya sampai turun ke tempat parkir. Saat itu aku tak merasa apa-apa, tapi setelah pulang ke Surabaya, kakiku njarem (linu) bukan main.

        Selain menikmati pemandangan Anak Gunung Kelud, pengunjung bisa mampir di sungai air hangat yang berada tak jauh dari tempat parkir. Untuk menuju ke sungai air hangat ini, bisa dengan berjalan kaki ataupun menggunakan ojek dengan tarif Rp 25 ribu/orang.

         Fasilitas wisata di Gunung Kelud memang sangat memadai. Mulai dari tempat parkir, warung makanan, tempat istirahat, toilet musholla, ada disini. Selain itu ada juga permainan flying fox dan persewaan kendaraan ATV di lokasi wisata Gunung Kelud ini.

          Untuk makanan, pengunjung tak usah kuatir. Di samping tempat parkir terdapat deretan warung makan yang menyediakan menu khas Jawa Timur seperti rawon, soto, pecel, dan lain-lain. Harganya pun sangat murah, tak sampai 10 ribu per porsi. Semua warung makanan yang berjualan disini sudah terdapat daftar harga, jadi pengunjung tidak usah kuatir habis banyak..
Jadi, wisata Gunung Kelud ini memang sangat cocok bagi keluarga untuk menghabiskan akhir pekan. Suasananya begitu sejuk dengan pemandangan yang indah memang menjadi daya tarik tersendiri yang dimilliki oleh Gunung Kelud.

AIR TERJUN SRI GETHUK Gemuruh Suara Air Pemecah Hening di Tanah Kering

Playen, Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia
Terletak di antara ngarai Sungai Oya yang dikelilingi areal persawahan nan hijau, Air Terjun Sri Gethuk selalu mengalir tanpa mengenal musim. Gemuruhnya menjadi pemecah keheningan di bumi Gunungkidul yang terkenal kering.
            Eksotisme Grand Canyon di daerah utara Arizona, Amerika Serikat tentunya tak bisa disangkal lagi. Grand Canyon merupakan bentukan alam berupa jurang dan tebing terjal yang dihiasi oleh aliran Sungai Colorado. Nama Grand Canyon kemudian diplesetkan menjadi Green Canyon untuk menyebut obyek wisata di Jawa Barat yang hampir serupa, yakni aliran sungai yang membelah tebing-tebing tinggi. Gunungkidul sebagai daerah yang sering diasumsikan sebagai wilayah kering dan tandus ternyata juga menyimpan keindahan serupa, yakni hijaunya aliran sungai yang membelah ngarai dengan air terjun indah yang tak pernah berhenti mengalir di setiap musim. Air terjun tersebut dikenal dengan nama Air Terjun Sri Gethuk.
Terletak di Desa Wisata Bleberan, Air Terjun Sri Gethuk menjadi salah satu spot wisata yang sayang untuk dilewatkan. Untuk mencapai tempat ini Anda harus naik kendaraan melewati areal hutan kayu putih milik PERHUTANI dengan kondisi jalan yang bervariasi mulai dari aspal bagus hingga jalan makadam. Memasuki Dusun Menggoran, tanaman kayu putih berganti dengan ladang jati yang rapat. Sesampainya di areal pemancingan yang juga berfungsi sebagai tempat parkir, terdapat dua pilihan jalan untuk mencapai air terjun. Pilihan pertama yakni menyusuri jalan setapak dengan pemandangan sawah nan hijau berhiaskan nyiur kelapa, sedangkan pilihan kedua adalah naik melawan arus Sungai Oya. Tentu saja YogYES memilih untuk naik rakit sederhana yang terbuat dari drum bekas dan papan.
            Perjalanan menuju Air Terjun Sri Gethuk pun dimulai saat mentari belum naik tinggi. Pagi itu Sungai Oya terlihat begitu hijau dan tenang, menyatu dengan keheningan tebing-tebing karst yang berdiri dengan gagah di kanan kiri sungai. Suara rakit yang melaju melawan arus sungai menyibak keheningan pagi. Sembari mengatur laju rakit, seorang pemandu menceritakan asal muasal nama Air Terjun Sri Gethuk. Berdasarkan cerita yang dipercayai masyarakat, air terjun tersebut merupakan tempat penyimpanan kethuk yang merupakan salah satu instrumen gamelan milik Jin Anggo Meduro. Oleh karena itu disebut dengan nama Air Terjun Sri Gethuk. Konon, pada saat-saat tertentu masyarakat Dukuh Menggoran masih sering mendengar suara gamelan mengalun dari arah air terjun.
           
Tak berapa lama menaiki rakit, suara gemuruh mulai terdengar. Sri Gethuk menanti di depan mata. Bebatuan yang indah di bawah air terjun membentuk undak-undakan laksana tepian kolam renang mewah, memanggil siapa saja untuk bermain di dalam air. YogYES pun turun dari rakit dan melompati bebatuan untuk sampai di bawah air terjun dan mandi di bawahnya. Kali ini rasanya seperti berada di negeri antah berantah di mana air mengalir begitu melimpah. Air mengalir di sela-sela jemari kaki, air memercik ke seluruh tubuh, air mengalir di mana-mana. Seorang kawan tiba-tiba berteriak "Ada pelangi!". Saat menengadah, selengkung bianglala nan mempesona menghiasi air terjun. Sesaat YogYES merasa menjadi bidadari yang berselendangkan pelangi.